Sihir Abracadabra

Pada masa modern ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakar ke dalam segala sisi kehidupan termasuk menawarkan penjelasan akan fenomena alam. Tetapi ritual, budaya atau tardisi kuno masih ada pula yang mampu bertahan, meskipun dipandang sebelah mata. Sihir, sulap, mantra yang dulunya dihormati kini lebih sering dianggap sebagai penipuan. Pada masa lalu, peran penyihir dan dukun sangat dihormati di banyak kebudayaan karena mereka adalah orang-orang yang dianggap mampu mengontrol kekuatan yang tak terlihat dan menafsirkan kehendak Tuhan. Selain itu, mereka mampu melindungi raja atau kekuasaan keluarga, dan menjaga stabilitas sebuah kerajaan.

Ilustrasi Aktivitas Penyihir, 
Sumber: wikepedia.org

Jika kita dapat mengamati ada sebuah kata sihir atau matra yang telah melekat dalam pikiran hampir semua manusia dari segala umur yaitu Abracadabra. Kata tersebut telah menjadi sebuah kata ajaib yang paling umum meskipun hingga sekarang belum terdefinisikan maknanya.
Pada masa lalu, kata itu dianggap sebagai mantra ampuh untuk digunakan dalam kasus demam atau infeksi. Sumber tertua yang menyebutkan kata Abrakadabra adalah Liber medicinalis - juga dikenal sebagai De Medicina Praecepta Dijual Berrima - oleh Quintus Serenus Sammonicus, seorang dokter di istana Kaisar Romawi Caracalla pada abad ketiga. Dan Kaisar Romawi sait itu selalu memakai jimat yang diberikat oleh Sammonicus tersebut. Jimat tersebut berisi kata-kata tertulis Abracadabra dalam bentuk segitiga terbalik:

Gambar Segitiga Terbalik Abracadabra

Orang-orang pada saat itu percaya bahwa jimat tersebut akan dapat menghindarkan sang pemakainya dari rasa sakit. Bahkan hal ini tercatat dalam buku-buku kedokterab saait itu. Pemakaian jimat ini juga dipakai oleh bangsa Mespotamia Kuno yang juga memiliki ritual pengusiran setan, ritual penyembuhan penyakit, dan ramalan astronomi. Kaisar Caracalla bukanlah satu-satunya orang yang memilih belajar  sihir guna menghidar dari kekuatan jahat. Kaisar Geta dan Severus Alexander juga mengikuti rekomendasi Serenus Sammonicus menggunakan mantra untuk tujuan yang sama.
Beberapa peneliti telah mencoba memahami etimologi dari kata Abracadabra. Terdapat beberapa teori utama yang telah dihasilkan. Pertama Abracadabra berasal dari bahasa Aram “Avrah Kadabrah’ yang berarti, "Aku akan menciptakan karena saya bicara" atau "Kata penyihir akan menjadi kenyataan." Penelitian lain melaporkan kata yang berasal dari Arab "Abra Kadabra", yang berarti "membiarkan hal dihancurkan," yang dalam hal ini mengacu pada penyakit. Daripada kutukan, para peneliti berpendapat kalimat bahasa Aram ini digunakan sebagai sarana menyembuhkan penyakit.
Teori kedua mengatakan bahwa abrakadabra bisa menunjukkan kata-kata Ibrani "ab" (ayah), "ben”(son), dan “ruach HaKodesh" (roh kudus). Satu teori terakhir adalah bahwa kata itu berasal dari Abraxas, istilah yang ditemukan pada batu dan permata yang digunakan sebagai jimat. Abracadabra bisa menggambarkan sebuah mediasi yang terjadi antara manusia dan Dewa Matahari.

Gambar Batu Dengan Ukiran Kata Abracadabra dari Abraxas

Pentingnya hubungan antara kekuatan Abracadabra dan penyembuhan dari Matahari hadir di beberapa jimat dan permata di peradaban kuno yang berfungsi untuk mengusir kekuatan jahat, ditulis dengan tujuan apotropaic. Arkeolog menemukan banyak jimat dalam bentuk segitiga dengan kata Abracadabra. Mantra kata itu dulu dinyanyikan dari atas segitiga dengan huruf akhir "A" di bagian bawah. Mereka percaya penyakit akan berkurang selama mantra itu ada dan akhirnya menghilang.
Singkatnya, Abracadabra dianggap memiliki kekuatan penyembuhan yang kuat dan kekuatannya dipercaya bertahan dalam tradisi modern. Bahkan jimat Abracadabra ini juga dipakai pada masa yang lebih modern pada sekitar tahun 1665 dan 1666. Saat itu seluruh kota hancur karena wabah penyakit. Daniel Defoe yang dianggap sebagai bapak dari para novelis Inggris menulis dalam bukunya yang berjudul “The History of the Plague in London” bahwa orang-orang yang mulai putus asa menulis kata Abracadabra di atas pintu rumahnya agar terhindar dari wabah.
Terkadang rasa putus asa mampu mengalahkan akal dan takhayul mengaburkan akal, manusia seringkali kehilangan arah. Sangat penting bahwa kita tidak membiarkan ketidaktahuan meredupkan cahaya terang pengetahuan.

Sumber:

Previous
Next Post »