Tradisi Kerudung Dalam Peradaban Kuno

Mayoritas masyarakat masa kini akan berpikir bahwa pemakaian kerudung berkaitan dengan simbol keagaamaan. Biasanya kain penutup kepala lebih diidentikkan dengan perempuan muslim dan biarawati dari Gereja Katolik. Tapi nyatanya, pemakaian kerudung telah ada sebelum era Masehi. Kebudayaan bangsa Indo-Eropa kuno yang berada dalam wilayah Eropa Timur, Timur Tengah tengah dan Asia Barat, seperti bangsa Het, Yunani, Romawi dan Persia telah terlebih dahulu mengenal kerudung. Tentu saja model kerudung memiliki bentuk dan aturan yang berbeda – beda. Tidak hanya digunakan oleh perempuan tetapi juga laki – laki.

Tercatat bahwa penggunaan kerudung pertama dilakukan di Mesopotamia oleh bangsa Asyur sekitar 1380 SM – 612 SM. Masa itu kerudung adalah sepotong kain tenun berbentuk persegi dari kain linen, wol, atau kapas yang digunakan perempuan untuk menyembunyikan wajah mereka dari pandangan publik. Dalam aturan bangsa Asyur kuno, kerudung menandakan strata sosial bagi perempuan. Hukum Asyur mewajibkan setiap perempuan kelas atas, istri, anak perempuan, dan janda untuk memakai kerudung. Para budak dan pelacur dilarang untuk memakainya.
Kerudung masa itu berfungsi sebagai alat perlindungan dari seorang ayah atau suami terhadap anak perempuan atau istrinya. Wajah perempuan yang belum menikah atau yang sudah menikah tidak akan dapat memikat. Seorang Istri, anak perempuan, dan janda akan dihukum berat karena tidak menutupi wajah mereka di depan umum. Penerapan hukum tersebut juga berlaku bagi para pria. Apabila mereka mengetahui ada pelacur atau budak yang menggunakan kerudung tapi tidak melaporkannya kepada “pihak berwenang” maka ia akan akan mendapatkan hukuman dalam bentuk cambukkan, dimutilasi (seperti sebelah tangannya dipotong), atau dipenjara. Kerudung adalah salah satu pakaian pertama yang memiliki aturan hukum.
Sementara itu dalam Kerajaan Yunani Kuno pada kurun waktu 900 SM – 200  SM, perempuan diharuskan memakai pakaian yang tertutup. Kerudung saat itu hadir dalam berbagai bentuk untuk menutupi kepala. Salah satu kerudung yang paling umum dipakai saat itu bernama “Kredemnon”. Berasal dari kata “Kare” yang berarti kepala, dan “Deo” yang bermakna mengikat. Jadi secara harfiah Kredemnin berarti “kepala mengikat atau pengikat kepala”. Kata tersebut juga digunakan untuk menunjukkan benteng kota. Dengan demikian kata Kredemnin juga bermakna perlindungan untuk perempuan terutama dari bahaya seksualitas.

Namun banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa alasan perempuan Yunani menggunakan penutup kepla bukan karena mereka berada di bawah tekanan atau alasan kewajiban serta berkaitan dengan moral. Penggambaran yang ditemukan dari beberapa tembikar kuno menyimpulkan bahwa penggunaan kerudung di kalangan perempuan Yunani bertujuan untuk menjaga rambut mereka agar tetap pada tempatnya atau sebagai hiasan di kepala. Penutup kepala di dalam kebudayaan Yunani Kuno disebut dengan “Himation”. Kerudung atau penutup kepala ini diikatkan hingga melilit leher tanpa menutupi wajah.

Pada masa modern ini penggunaan penutup kepala atau kerudung masih dipertahankan di beberapa budaya. Di India, dapat dilihat bahwa perempuan Hindhu juga menggunakan kerudung. Atau dalam agama  Sinto yang dalam beberapa tradisi keagamaanya, perempuan akan menggunakan kerudung. Dalam agama Katolik juga digambarkan jika Bunda Maria selalu menggunakan penutup kepala. Setiap agama dan tradisi akan memiliki aturan serta nama yang berbeda berkaitan dengan kerudung. Jika dalam agama Islam, kerudung disebut dengan Jilbab dan diwajibkan untuk setiap muslimah. Sementara itu dalam agama Katolik kerudung akan disebut dengan Tudung atau Matilla dan biasanya hanya digunakan oleh para Biarawati. 
Newest
Previous
Next Post »